Bang Ucu, seorang Abang yang selalu cinta sama Tenabang


Pada hari Sabtu, 15 Desember 2012 kami berkunjung dan mewawancarai Bang Ucu, salah satu sesepuh Tenabang.  Memasuki rumah dengan pekarangan seluas ± 500 meter persegi yang terletak di Kampung Cihideung Ilir, Cibanteng, Bogor serasa memasuki rumah sendiri karena keramahan dan sambutan yang hangat dari sang tuan rumah. Duduk di lantai belakang rumah menghadap ke empang ikan yang luas kami  mengobrol santai dengan Bang Ucu, dalam suasana keakraban seperti layaknya seorang encing atau paman kepada keponakan-keponakannya.

Pembicaraan diawali dengan ucapan syukur bahwa kita telah membuat web Sikumbang Tenabang yang mana pembuatan web ini dimaksudkan untuk menyambung silaturahim yang mungkin terputus akibat banyaknya warga yang sudah pindah dari Tenabang dan juga supaya keluarga besar Tenabang tidak mati obor dan terus menjaga silaturahim hingga kelak sampai cucu – cicit kita nanti.

Siapakah Bang Ucu?

Rasanya tidak ada orang Tenabang yang tidak kenal bang Ucu. Muhammad Yusuf Muhi atau lebih dikenal dengan panggilan bang Ucu, lahir di Tenabang, 21 April 1946. Mempunyai 2 orang istri dan 16 anak yang tinggal di Tanah Abang dan Tebet.

Pada tahun 1993 bang Ucu mendirikan Ikatan Keluarga Besar Tenabang (IKBT) yang bergerak di bidang sosial kemasyarakatan, jasa keamanan dan penyaluran tenaga kerja anak-anak Tenabang. Bang Ucu lebih senang disebut pedagang atau pengusaha daripada disebut jagoan apalagi disebut preman. Sekarang bang Ucu sedang menikmati hidupnya sebagai peternak kambing dan ikan di Bogor serta ingin tetirah untuk mendekatkan diri dihadapan Alloh SWT.

Dalam perjalanan hidupnya, bang Ucu selalu jalan sendiri ke mana-mana. Sesuai gambar tato di tangannya yang bertuliskan “Lonely Heart”. Dia tidak pernah mengandalkan teman-temannya kalau ada masalah di lapangan alias single fighter.  Walaupun begitu tetap saja banyak teman-temannya yang ingin membantu kalau dia dalam kesulitan atau permasalahan dengan orang lain.

Bang Ucu berprinsip, “Biar loe dijagain pasukan atau diberikan pagar betis, tapi kalo Alloh mau ambil nyawa loe, gak ada urusan, siape yang bisa tahan kalo Alloh udeh mau ambil”. Makanya dalam hidup ini kita harus jadi orang baik, apalagi kita anak Tenabang ini berasal dari keturunan orang baik, kakek moyang kita adalah orang alim dan pedagang, bukan pengemis apalagi preman.

Sampai saat ini masih banyak orang yang suka minta tolong ke bang Ucu, dari warga kampung biasa yang sedang mengalami masalah keributan keluarga yang minta didamaikan dan pedagang kaki lima yang diusir satpol PP,  sampai ke pengusaha, pimpinan ormas kepemudaan dan petinggi kepolisian serta militer.

Dia melakukan semua ini secara ikhlas.  Walaupun pernah ada orang yang janji mau ngasih uang ke dia, ternyata orang itu gak ngasih, dia tetap ikhlas. Karena yang diutamakan dalam kehidupannya adalah keikhlasan. Kalau masalah uang, dia masih bisa dagang, katanya. Pernah suatu ketika ada pedagang duren yang merasa dibantu bang Ucu ingin memberikan durennya ke bang Ucu, tapi dia tolak. Karena dia gak tega menerimanya dengan pertimbangan keuntungan yang diterima pedagang duren yang tidak seberapa akan habis kalau durennya diberikan kepadanya.

Sejak masih muda ada satu prinsip bang Ucu yang sampai saat ini masih dia pegang. Kalo perlu apa-apa, banyakin minta sama Alloh – Yang Ahad dan berbakti kepada kedua orang tua terutama kepada Ibu. Pernah suatu ketika bang Ucu muda sedang berkelahi dengan temannya, ibunya datang langsung menegur dan menjewernya. Dia cium tangan dan langsung pulang . Makanya satu pesan dia kepada kita yang memang seharusnya kita pegang teguh, “Girangin hati Ibu dan taat sama Ibu , karena itu keramat berjalan. Kalau perlu cium kaki ibu, minta ridhonya karena kalau Ibu sudah ridho kepada kita, Alloh pasti juga ridho sama kita”.

Di penghujung usia senjanya masih saja bang Ucu memancarkan semangat juangnya. Bang Ucu mengajak Sikumbang Tenabang kapan-kapan untuk membantu KPK sebagai tameng KPK. Kita bantu KPK karena KPK bener.  Tapi kalau KPK gak bener, ya jangan dibantu, begitu katanya.

Belajar maen pukul

Bang Ucu banyak belajar maen pukul di antaranya maenan Sabeni, Rachmat, Cingkrik dan Gerak Rasa. Namun dalam berbagai pengalaman hidupnya, yang banyak dipakai adalah maenan Sabeni dari Cing Mus dan Babe Ali.

Bang Ucu belajar maen pukul kepada teman-teman seangkatannya dengan cara saling mengisi kekurangan dan tukar menukar pendapat dalam membuka buah dari jurus, di antaranya pada saat belajar Rachmat kepada alm bang Kukung. Sedangkan kemahiran beliau dalam bermain golok didapat dari latihannya secara otodidak alias tanpa guru.  Kata bang Ucu, “Sabeni tanpa Rachmat pincang, Rachmat tanpa Sabeni juga pincang. Sabeni dan Rachmat saling mengisi”.

Selain itu sewaktu belajar silat dia melakukannya setelah mengaji dan mengkaji Al Quran. Pesannya kalau mau belajar silat harus disertai sholat dan ngaji supaya tidak jadi orang sombong. Karena kalau tidak disertai sholat dan ngaji, pasti yang timbul sifat kejagoan dan kesombongan. Rasanya sok pengen ngetes melulu.

Dalam wawancara dengan beliau, kami diberikan resep rahasia latihan olah tubuh dan olah rasa yang selama ini dipraktekkan olehnya. “Dalam menghadapi musuh, nyali kita mesti gede, siape cepet die yang dapet. Biar musuh pletak-pletok maenin jurus, kalo hatinye nyingnying belum tentu die menang. Tapi kalo nyali segede gunung, setiap pukulan pasti keliatan”, begitu tukas bang Ucu.

Sewaktu masih muda, kalau bang Ucu jalan ke mana-mana, dia selalu membawa geretan kayu, segenggam pasir dan cabe yang sudah ditumbuk ke dalam sebuah kantong. Hal ini untuk jaga-jaga karena kebanyakan orang kalau berkelahi tidak gentle alias beraninya keroyokan. Dalam menghadapi musuh, ludah pun bisa dijadikan senjata ampuh. Kalo sudah terdesak ludah itu diarahkan ke mata lawan. Gak mungkin musuh mau menangkis ludah kita, katanya.

Dalam melatih gerakan reflek mata dan kecepatan tangan, bang Ucu selalu melatih “Longok Monyet”, yaitu salah satu gerakan dalam jurus Kelabang Nyebrang maenan Sabeni.  Di masa mudanya, bang Ucu sering melatih kecepatan tangan dan kejelian matanya juga dengan melempar sebatang rokok Jinggo ke atas kepala dan ketika jatuh diambilnya dengan menggunakan tusukan gigi. Sampai sekarang pun kejelian matanya masih terasah. Di tengah wawancara, dia mempraktekan dengan membaca tulisan peringatan bahaya di bungkus rokok sampai habis tanpa menggunakan kacamata, padahal tulisannya sangat kecil.  Dia juga mahir dalam menggunakan pistol dan senapan angin untuk menembak sasaran yang bergerak.

Ketika ditanya mengenai jaket kulit yang sering dipakai, yang kata orang jaketnya ada ”isinya” sehingga dia bisa kebal. Bang Ucu bilang emang jaketnya ada isinye yaitu : benang, kancing dan bahan kulit. Semua ilmu yang didapat hanya dari Alloh SWT, gak ada ilmu laen katanya. Memang beliau selalu mengamalkan wiridan khusus yang didapat dari ilmu warisan Guru Mujib (Amalannye ape, rahasia dapur ye… hehe red). Hal ini pernah dibuktikan waktu dia dikeroyok oleh puluhan orang di Jakarta, Banten, Solo, Tegal dan lain-lain tempat, tapi Alhamdulillah dia tidak kenapa-napa alias masih selamat. Bukan lantaran bang Ucu punya punya ilmu kebal, tapi karena yang ngeroyok, yang bacok maupun yang mau nembak dia orang bodoh, katanya.  Dalam perjalanan ke daerah Jawa Tengah dia pernah kecelakaan tabrakan mobil hingga mobilnya hancur terbelah dua. Alhamdulillah ternyata dia cuma luka sedikit.

Pesan bang Ucu : selain sholat fardlu, perbanyaklah sholat sunnah dan kalau mau zikir jangan terburu-buru. Dan sering-sering bangun malam, mandi pagi terus tahajud dan latihan pernafasan. Sejatinya gerakan wudlu dan sholat adalah gerakan silat, katanya. Wudlu mengajarkan kita untuk tidak berbicara sekata-katanya, tangan jangan nampar sembarangan, kalo bukan barang milik sendiri jangan diambil. Mumpung masih muda banyakin gerak. Perbanyak jalan kaki di siang hari selain untuk pembakaran lemak juga untuk ketahanan fisik. Sewaktu jalan lakukan jongkok terus bangun, jalan lagi terus jongkok dan bangun. Lakukan terus secara berulang-ulang.

Berawal dari pelarian karena patah hati

Sewaktu masih muda dia suka menantang berkelahi jago-jago silat untuk mengetes keberanian dan kelihaian maen pukulnya. Bukan maksud untuk jadi jagoan sebenarnya tetapi semua berawal sebagai pelarian karena pernah patah hati lantaran putus cinta dengan kekasihnya wanita asal Bogor (daripada patah hati pengen bunuh diri, mending ngetes jago-jago silat laen. hehe… red). Maklum pada saat itu masih bego, seolah dunia seperti daun kelor saja, katanya.

Pada tahun 1996 pada saat kejadian ribut anak –anak Tenabang dengan kelompok Hercules. Kalau tidak karena Letjen. Prabowo (pada saat itu masih sebagai Danjen Kopassus) dan Mayjen. Hamami Nata (Kapolda Metro Jaya) yang menelepon bang Ucu dan mengirimkan utusannya untuk minta tolong ke bang Ucu agar Hercules diselamatkan, mungkin Hercules sudah mati pada saat itu oleh bang Ucu dan anak-anak Tenabang.

Nah tugas kita sekarang adalah menghilangkan image negatif kalo Tenabang itu masih wilayah kekuasaan Hercules walaupun Hercules dan kawan-kawannya sendiri sudah angkat kaki dari Tenabang sejak tahun 1996. Tugas kita sebagai warga asli Tenabang agar menjaga kampung kita dari orang luar yang mau masuk merusak keamanan kampung Tenabang.

Bang Ucu sendiri merasa malu kalo disebut jagoan. Yang jagoan itu cuma ayam yaitu ayam jago. Dia sering istighfar kalau disebut jagoan. Lebih baik kita disegenin daripada ditakutin. Lebih baik punya banyak kawan dan saudara, daripada punya banyak musuh. Apalagi kalau musuhnya orang kampung sendiri. Dan perbanyaklah silaturahim dengan siapa pun. Begitu prinsip hidupnya.

Jakarta itu Jalan Karet Tanah Abang

Ada pernyataan bang Ucu yang cukup mengagetkan bagi kami waktu beliau menyampaikan ada pameo mengatakan ”JAKARTA itu singkatan dari Jalan Karet Tanah Abang”. Yang menginformasikan berita ini adalah Ibu Megawati Sukarnoputri dan Bapak Santayana Kemas, adiknya Bapak Taufik Kemas.

Sewaktu Bung Karno membuat nama Jakarta, peristiwa ini disaksikan langsung oleh Guru Mujib dan tokoh-tokoh Tanah Abang diantaranya Sabeni dan Rachmat.

Kedekatan hati Bung Karno dengan Tanah Abang bukan tanpa sebab. Menurut bang Ucu, ternyata tongkat komando yang  selalu dipegang oleh Bung Karno adalah pemberian Guru Mujib, guru tauhid  dari Tanah Abang (baca sejarah Guru Mujib di artikel sebelumnya). Sedangkan peci yang selalu dipakai oleh Bung Karno adalah buatan Bapak Mustofa, tukang peci dari Kebon Pala I, Tanah Abang. Alm Ibu Fatmawati, istri Bung Karno sendiri dikuburkan di pekuburan Karet Bivak Tanah Abang.

Ditambah sejarah organisasi sosial dan politik di Indonesia awal abad ke-20, sebenarnya bermula dari lembaga dengan nama Jamiat Kheir yang berada di Tanah Abang. Jamiat Kheir lahir pada tahun 1901, beberapa tahun sebelum lahirnya organisasi pergerakan ke arah kemerdekaan Indonesia, Boedi Oetomo.  Jamiat Kheir yang didirikan oleh Habib Abubakar bin Ali Shahab hingga kini diakui oleh pemerintah RI dan ahli sejarah Islam Indonesia sebagai organisasi Islam yang banyak melahirkan tokoh-tokoh perjuangan Indonesia. Mereka antara lain seperti KH. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), HOS. Tjokroaminoto (pendiri Sarekat Islam dan mentor politik Soekarno muda), H. Samanhudi (tokoh Sarekat Dagang Islamiyah), H. Agus Salim (tokoh Konferensi Meja Bundar), dan tokoh-tokoh perintis kemerdekaan lainnya yang merupakan anggota atau setidak-tidaknya mempunyai hubungan dekat dengan Jamiat Kheir (baca artikel sebelumnya tentang Jamiat Kheir).

Harapan dan pesan kepada Sikumbang Tenabang

Sekarang bang Ucu lebih seneng mendukung komunitas Sikumbang Tenabang karena misi utama Sikumbang Tenabang adalah menjaga pelestarian seni maen pukul betawi, menjadikan maen pukul sebagai sarana silaturahim dan dakwah, mempererat ukhuwah Islamiyah dan bashariyah serta berusaha untuk konsisten menjaga  independensi dari kepentingan politik tertentu. Mudah-mudahan Sikumbang dan Tenabang berjaya dalam kebaikan, kebersihan hati dan kemuliaan akhlak orang-orangnya. Bukan karena punya pasukan banyak tapi kelakuannya petangtang petengteng.

Dia juga berpesan agar kita selalu memperbanyak silaturahim karena akan menambah kekuatan, rezeki, kesehatan dan membuat awet muda.  Lebih baik mencari kawan daripada musuh. Apalagi zaman sekarang beda kaos aja jadi pada merengut alias jadi bermusuhan. Rasulullah SAW dibenci dan dicaci maki sama orang lain tidak pernah marah. Malah mendoakan orang-orang yang membencinya karena Rasulullah menganggap orang-orang yang membencinya belum tau risalahnya.

Memang anak Tenabang walaupun sudah pindah tempat tinggal, tapi ikatan hati atau batin gak pernah lepas. Tenabang memang jarang macam-macam alias bertingkah, tapi kalo ada terjadi apa-apa, pasti pada ngumpul untuk bersatu. Di Tenabang segala macam orang ada, ada anak bandelnya yang tukang minum, ada ulamanya juga. Tapi kalo preman gak ada di Tenabang. Preman itu kebanyakan orang luar. Biar gendeng-gendeng anak Tenabang malu jadi preman, lebih baik dia jadi pedagang atau tukang parkir daripada jadi preman.

Setiap orang punya kelebihan dan lebih banyak lagi kekurangannya. Di situ kita tidak boleh sombong. Dengan kelebihan yang sedikit-sedikit itu kita kumpulkan sehingga lama-lama menjadi bukit. Untuk menutupi kebutuhan dana operasional Sikumbang Tenabang, bang Ucu menyarankan agar kita menjalankan usaha dengan cara yang lurus dan jujur serta pererat silaturahim ke abang-abang kita yang udah pada jadi orang sukses. Bukan kita ngemis, tetapi memanfaatkan akses untuk kemaslahatan umat.

Penutup

Sehubungan dengan Sikumbang Tenabang yang mempunyai rencana untuk membangun pondok pesantren di daerah Ciomas, Bogor bagi anak yatim piatu untuk belajar Tahsin Tahfiz Al Quran. Insya Alloh pembelian tanah dan pembangunan pesantren ini akan dijadikan wakaf bagi anak-anak Tenabang dan pihak-pihak lain sehingga menjadi ladang pahala untuk bekal kita nanti di akhirat kelak. Hal ini dimaksudkan agar kita anak-anak Tenabang tidak hanya bisa ngumpul di dunia tetapi mudah-mudahan dapat kembali ngumpul lagi di sorga dengan wasilah pahala dari anak-anak yatim piatu yang mengamalkan ilmu Al Quran dari wakaf kita. Dalam hal ini bang Ucu sangat mendukung dan semaksimal mungkin akan membantu pendanaan baik dari kantong pribadi maupun melalui relasi-relasinya. Mudah-mudahan akhir hidup kita nanti akan berujung pada keadaan Husnul Khotimah. Amin Ya Robbal Alamin..

(Diringkas dari kunjungan tim Sikumbang Tenabang : Roni Adi, Amri Muchlis, Sulaeman, Anasrullah, Tirta Maestro dan Sholahudin “Si Bob”)

You can leave a response, or trackback from your own site.

Switch to our mobile site

Top